Rabu, 22 Oktober 2014
Hubungan Filsafat
Hubungan Akhlaq dan Tasawuf
Makalah
Disusun Guna Memenuhi
Tugas Mata Kuliah : Akhlaq/Tasawuf
Dosen Pengampu : Komarudin, M.Ag

Disusun Oleh :
Widi Aprila (131111065)
Amal Hayati (131111049)
Kurniasari Wijayati (131111050)
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
WALISONGO
SEMARANG
2014
I.
PENDAHULUAN
Tasawuf dan Akhlak merupakan
disiplin ilmu dalam islam yang sangat erat sekali hubungannnya, dan tidak
dapat di pisahkan antara satu dengan yang lain. Karena ketika kita membicarakan
akhlak aspek tasawuf tidak bisa dilepaskan. Demikian sebaliknya jika
tasawuf dibincangkan maka akhlak menjadi hal utama yang harus di bahas.Untuk
mengetahui seberapa pentingkah hubungan akhlak dengan tasawuf mungkin kita
dapat mengkaji pendapat-pendapat ulama sebagai berikut.
الأخلاق
بداية االتصوف والتصوف نهاية الأخلاق
Artinya:
Akhlak adalah pangkal permulaan tasawuf,
sedangkan tasawuf batas akhir dari akhlak.
Begitu juga halnya yang
dikemukakan oleh Al-kattany dan oleh al-Ghazali yang
meyatakan hubungan akhlak dan tasawuf yang dinyatakan dalam
perkataannya;
التصوف خلق فمن
زاد عليك في الخلق زاد عليك في التصوف
Artinya:
Tasawuf itu adalah budi pekerti, Barang siapa
yang menyiapkan bekal atasmu dalam budi pekerti, maka berarti ia menyiapkan
bekal atas dirimu dalam bertasawuf.
Pengalaman
tasawuf yang dilakukan para sufi telah memberikan kesan kepada kita, bahwa
tasawuf merupakan ajaran yang meruang lingkup kepada hubungan transenden
, yang berarti hubungan hamba Allah dan
Tuhannya
II.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa
Pengertian Akhlaq dalam Islam?
2.
Apa
pengertian Tasawuf dalam Islam?
3.
Jelaskan
latar belakang munculnya Tasawuf dalam Islam dan sumber-sumber ajaran Tasawuf?
4.
Jelaskan
hubungannya Akhlaq dengan Tasawuf?
III.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Akhlaq dalam Islam
Akhlak
(bahasa Arab), secara etimologis, adalah bentuk jamak dari kata khuluq. Khuluq
di dalam Kamus al-Munjid berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, dan
tabiat. Akhlaq berakar dari kata kha-la-qa yang berarti menciptakan. Seakar
dengan kata khaliq yang berarti pencipta, makhluq yang berarti yang diciptakan
dan khalq yang berarti penciptaan.
Kesamaan akar kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam
akhlaq tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak Khaliq
(Tuhan) dengan prilaku makhluq (manusia). Atau dengan kata lain, tata prilaku
seseorang terhadap orang lain dan lingkunganya baru mengandung nilai akhlaq
yang hakiki manakala tindakan atau prilaku tersebut didasarkan kepada kehendak
Khaliq (Tuhan). Dari pengertian etimologis seperti ini, akhlaq bukan saja
merupakan tata aturan atau morma prilaku yang mengatur hubungan antara sesama
manusia, tetapi juga norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan
dan bahkan dengan alam semesta.
Sedangkan secara istilah, banyak ulama mendefinisikan
pengertian akhlak diantaranya adalah sebagai berikut:
Imam al-Ghazali :
الخلق عبارة عن هيئة في النفس
راسخة عنها تصدر الافعال بسهولة ويسر من غير حاجة الي فكر و رؤية.
“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
perbuatan-perbuaatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan”.
Ibnu maskawih :
“ Akhlak adalah gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan
perbuatan dengan tidak membutuhkan pikiran”.
Ahmad amin :
“Akhlak adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk,
menerangkan apa yang seharusnya dilakukan setengah manusia kepada lainnya
menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan
menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.
Disamping akhlak, moral dan etika juga sama-sama menentukan
nilai baik dan buruk seseorang. Bedanya akhlak mempunyai standar ajaranyang
bersumber kepada al-Qur’an dan sunnah Rasul, etika berstandarkan akal pikiran
sedangkan moral berstandarkan adat atau kebiasaan yang terdapat didalam
masyarakat.”
Ibrahim Anis:
“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya
lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran
dan pertimbangan”.
Abdul karim Zaidan:
“Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam
jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatanya
baik atau buruk untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkanya”.
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa perbuatan manusia
baru disebut akhlak kalau terpenuhi dua syarat, yaitu:
Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang. Kalau perbuatan itu
hanya dilakukan sesekali saja, maka tidak dapat disebut akhlak. Misalnya, pada
suatu ketika, orang yang jarang berderma tiba-tiba memberikan uang atau bantuan
kepada orang lain, karena alasan tertentu. Dengan tindakan ini ia tidak dapat
disebutorang yang murah hati atau disebut sebagai orang berakhlak dermawan.
Karena hal itu tidak melekat pada jiwanya. Lebih jauh tentang keterulangan
perbuatan manusia, yang selanjutnya disebut akhlak, Ahmad Amin dalam bukunya
al-Akhlak menyatakan bahwa pada dasarnya akhlak itu adalah membiasakan kehendak
(‘adah al-iradah). Kata membiasakan disini dipahami dalam pengertian melakukan
sesuatu secara berulang-ulang, sehingga menjadi kebiasaan (‘adah). Adapun yang
dimaksud dengan kehendak (iradah) adalah menangnya keinginan untuk melakukan
sesuatu setelah mengalami kebimbangan untuk menentukan pilihan terbaik di
antara beberapa alternatif. Apabila iradah sering terjadi pada seseorang, maka
akan terbentuk pola yang baku, sehingga selanjutnya tidak perlu membuat
pertimbangan-pertimbangan lagi, melainkan secara langsung melakukan tindakan
yang telah dilaksanakan tersebut.
Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikir atau diteliti
terlebih dahulu sehingga benar-benar merupakan suatu kebiasaan. Jika perbuatan
itu timbul karena terpaksa atau setelah difikir dan dipertimbangkan terlebih
dahulu secara matang, tidak disebut akhlak. Ada dua hal yang dapat dijadikan
sebagai alat untuk mengukur kebiasaan: (1) ada kecenderungan hati padanya, (2)
ada pengulangan yang cukup banyak, sehingga mudah mengerjakanya tanpa
memerlukan fikiran lagi.[1]
2.
Pengertian Akhlaq dalam Islam
Tasawuf memiliki banyak
pengertian sesuai dengan asal-usul kata tersebut antara lain:
• Shafa (Suci)
Disebut shafa (suci) karena
kesucian batin sufi dan kebersihan tindakannya
• Shaff (Barisan)
Karena para sufi memiliki iman
yang kuat, jiwa yang bersih, dan senantiasa memilih barisan terdepan dalam
shalat berjamaah.
• Shaufanah
Yakni sejenis buah-buahan kecil
berbulu yang banyak tumbuh di padang pasir jazirah Arabia.
• Shuffah (Serambi tampak duduk)
Yakni shufah masjid nabawi di
madinah yang disediakan bagi para tunawisma dan kalangan muhajirin dimasa
Rasulullah SAW
• Shafwah (Yang terpilih atau terbaik)
Sufi adalah orang yang terpilih
diantara hamba-hamba Allah SWT
• Theosophi (Yunani : Theo = Than, Shopos =
Hikmah)
Yang berarti hikmah atau kearifan
ketuhanan
• Shuf (Bulu domba)
Karena para shufi memakai pakaian
dari bulu domba yang kasar, sebagau lambing kerendahan hati, untuk menghindari
sikap sombong disamping untuk menerangkan jiwa serta meninggalkan usaha-usaha
yang bersifat duniawi.
Dari beberapa pengertian yang
dikemukakan di atas, Zakaria Al-Anshari (852-925/1448-1515M) seorang penulis
tasawuf, meringkars tasawuf sebagai cara menyucikan diri, meningkatkan akhlak,
dan membangun kehidupan jasmani dan rohani untuk mencapai kebahagiaan abadi.
Dua hal pokok tentang tasawuf
yang disepakati semua pihak yaitu :
1. Kesucian jiwa untuk menghadap Allah SWT
sebagai Zat yang Maha Suci.
2. Upaya pendekatan diri secara individual
kepadanya
Kedua pokok tasawuf itu mengacu
pada pesan dalam Al-Qur’an
ôs% yxn=øùr& `tB 4ª1ts? ÇÊÍÈ tx.sur zOó$# ¾ÏmÎn/u 4©?|Ásù ÇÊÎÈ
Artinya :
“ Sesungguhnya beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)
dan mengingat nama tuhannya, lalu dia shalat. (QS. Al-A’la / 87: 14-15).[2]
3.
Hubungannya Akhlaq dengan Tasawuf
Latar belakangnya yaitu munculnya aliran
Tasawuf dalam Islam oleh beberapa para ahli berbeda-beda pendapat , ada yang
mengatakan tasawuf muncul sesudah umat Islam mempunyai kontak atau hubungan
dengan filsafat Yunani, Agama Kristen, Agama Hindu, Budha, dan Katholik.
Sehingga muncul anggapan bahwa tasawuf lahir dari luar Islam. Pendapat ini
terjadi pro dan kontra, karena dalam sejarah kehidupan rasul ternyata
mengandung nilai-nilai sufisme (tasawuf). Bila ditelusuri banyak ayat dan
hadist serta perilaku Rasulullah SAW yang sama dengan nilai-nilai yang ada
dalam tasawuf.
v Sumber Ajaran
Tasawuf:
Unsur
Islam: Al-Qur’an mengajarkan manusia
untuk mencintai Tuhan (QS. Al-Maidah: 54), Bertaubat dan mensucikan diri (QS. At-Tahrim:
8), Manusia selalu dalam pandangan Allah dimana saja (QS. Al-Baqarah: 110),
Tuhan memberi cahaya kepada hambaNya (QS. An-Nur: 35), Sabar dalam bertaqarrub
kepada Allah (QS. Ali Imran: 3).[3]
4. Hubungan Tasawuf dengan Akhlaq
Akhlaq dan
Tasawuf saling berkaitan. Akhlaq dalam pelaksanaannya mengatur hubungan
horizontal antara sesama manusia, sedangkan Tasawuf mengatur jalinan komunikasi
vertical antara manusia dengan Tuhannya. Akhlaq menjadi dasar dari pelaksanaan
tasawuf, sehingga dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlaq.
Jika kata “tasawuf” dengan kata “akhlaq” disatukan, akan terbentuk sebuah
frase, yaitu tasawuf akhlaki. Secara etimologis, Tasawuf Akhlaki bermakna
membersihkan tingkah laku atau saling membersihkan tingkah laku. Tasawuf adalah
proses pendekatan diri pada Tuhan dengan cara mensucikan hati
sesuci-sucinya. Dalam Tasawuf Akhlaki, sistem pembinaan akhlaq menganut 3
cara yaitu :
1. Takhalli
Sebagai langkah pertama yang harus dilakukan
oleh seorang sufi dengan cara mengosongkan diri dari akhlak tercela serta
memerdekakan jiwa dari hawa nafsu duniawi.
2. Tahalli
Sebagai upaya mengisi jiwa dengan akhlak yang
terpuji.
3. Tajalli yaitu merupakan kelanjutan proses dari takhalli dan tahalli yang intinya
terbukanya pintu hijab yang membatasi manusia dengan Tuhan, para kalangan sufi menyebut dengan ungkapan ma'rifah.[4]
Selain itu menurut Harun Nasution hubungan Ilmu Akhlak dengan
Ilmu Tasawuf menurutnya ketika mempelajari tasawuf ternyata Al-Qur’an dan
Hadist juga mementingkan akhlak. Al-Qur’an dan hadist menekankan nilai-nilai
kejujuran , keadilan , persaudaraan , menepati janji , sabar dan lain-lain.
Nilai – nilai serupa ini harus dimiliki oleh seorang Muslim. Dan sebagaimana
tasawuf adalah sesuatu hal yang paling menonjol , karena bertasawuf pada
hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti sholat , puasa , dzikir dan
lain – lain. Semua itu erat hubungannya dengan akhlak. Inilah yang dimaksud
dengan ajaran amar ma’ruf nahi munkar , mengajak orang pada kebaikan dan
mencegah dari hal-hal yang tidak baik.[5]
KESIMPULAN
Pada pembahasan
ini dapat kita simpulkan bahwa hubungan Akhlak dan tasawuf sangat perlu kita pelajari, karena
hal ini membahas tentang tujuan tasawuf yaitu sebagai berikut:
bertujuan untuk memperoleh hubungan
langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang
berada di hadirat Tuhan dan intisari dari itu adalah kesadaran akan adanya
komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan cara mengasingkan
diri dan berkontemplasi.
Lebih
menetahui tentang Tasawuf, yang merupakan salah satu ilmu yang tentu saja
berhubungan dengan ilmu lainnya. Keterkaitan ini kadang-kadang dilihat dari
persamaan objek, persamaan sudut pandang, persamaan sumber dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
H. Abuddin
Nata, M. A. “ Akhlak Tasawuf ” , Raja
Grafindo Persada , Jakarta:2002
sevannisa.blogspot.com/2012/11/akhlak-dan-tasawuf-dalam-islam
http://manggasugengrawuh.wordpress.com/2012/12/25/20-fakta-menarik-tentang-islam/
[1] http://manggasugengrawuh.wordpress.com/2012/12/25/20-fakta-menarik-tentang-islam/
[2] http://blogmerko.blogspot.com/2012/12/makalah-tasawuf-dalam-islam.html
[3] www.rokhim.net/2011/10/hubungan-akhlak-dan-tasawuf.
[4] sevannisa.blogspot.com/2012/11/akhlak-dan-tasawuf-dalam-islam.
[5] H. Abuddin Nata, M. A. “ Akhlak
Tasawuf ” , Raja Grafindo Persada , Jakarta:2002 , hal 18
Langganan:
Komentar (Atom)


